Kesehatan7 Agustus 2026visibility41 dibaca

Apotek Hidup di Halaman Rumah: Memanfaatkan TOGA sebagai Obat Alternatif Keluarga

Panduan praktis menanam dan meracik Tanaman Obat Keluarga untuk keluhan sehari-hari masyarakat Kecamatan Patani, Kabupaten Halmahera Tengah

Oleh: Aster | Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Tim KKN-PPM UGM Kecamatan Patani, Kabupaten Halmahera Tengah

Apotek hidup yang dapat menjadi sumber 1001 manfaat untuk kesehatan. TOGA atau Tanaman Obat Keluarga merupakan rumpun herbal (empon-empon) yang biasa ditemukan di pekarangan rumah dan sangat bermanfaat untuk kesehatan keluarga.

Apotek Hidup di Halaman Rumah: Memanfaatkan TOGA sebagai Obat Alternatif Keluarga

Hampir setiap rumah di Patani memiliki halaman. Ada yang ditanami pisang, ada pula yang dibiarkan ditumbuhi rumput. Padahal di halaman yang sama, sebenarnya bisa berdiri sebuah apotek kecil yang buka dua puluh empat jam, tidak pernah kehabisan stok, dan tidak memungut biaya sepeser pun. Namanya TOGA.

Apa Itu TOGA?

TOGA adalah singkatan dari Tanaman Obat Keluarga. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengartikannya sebagai tanaman berkhasiat obat yang sengaja ditanam di pekarangan, kebun, atau sekadar di dalam pot di sekitar rumah, untuk memenuhi kebutuhan kesehatan keluarga sehari-hari. Sederhananya: obat yang tumbuh sendiri, dan kita tinggal memetiknya.

Kebiasaan ini bukan hal baru. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa sebagian besar penduduk di negara berkembang masih mengandalkan pengobatan berbasis tanaman sebagai pertolongan pertama. Di Indonesia sendiri, ramuan tradisional sudah diakui negara melalui Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia yang diterbitkan Kementerian Kesehatan sebagai acuan resmi bagi tenaga kesehatan.

Perlu diluruskan sejak awal: memanfaatkan TOGA bukan berarti menolak dokter. TOGA berperan sebagai pendamping dan pertolongan pertama, terutama di wilayah yang jarak ke fasilitas kesehatannya cukup jauh seperti desa-desa di Kecamatan Patani. Untuk batuk ringan, masuk angin, atau luka lecet, ramuan rumahan sering kali sudah cukup menolong sambil menunggu keadaan membaik.

Memulai dari Nol: Cara Mendapatkan TOGA Kabar baiknya, memulai TOGA nyaris tidak butuh modal. Ada beberapa cara termudah yang bisa langsung dicoba hari ini juga:

  • Ambil dari dapur sendiri. Rimpang jahe, kunyit, atau kencur yang mulai bertunas jangan dibuang. Tanam saja, dalam dua sampai tiga minggu tunasnya akan muncul.
  • Perbanyak dengan stek. Sirih, sereh, dan kumis kucing cukup dipotong batangnya sepanjang satu jengkal, lalu ditancapkan ke tanah lembap.
  • Minta bibit dari sekitar. Tetangga, kelompok PKK, kader Posyandu, atau Puskesmas kecamatan biasanya bersedia berbagi anakan tanaman secara cuma-cuma.
  • Tidak punya lahan? Gunakan wadah bekas. Polybag, ember pecah, kaleng cat, atau karung beras bisa jadi pot, asalkan diberi lubang di bagian bawah agar air tidak menggenang.

Tanah di wilayah pesisir umumnya berpasir dan cepat kering. Siasatnya, campurkan tanah dengan kompos daun, sekam, atau pupuk kandang dengan perbandingan kira-kira dua banding satu. Letakkan tanaman di tempat yang terkena matahari pagi namun terlindung dari angin laut langsung, lalu siram sore hari. Tidak perlu langsung banyak, lima sampai sepuluh jenis tanaman saja sudah lebih dari cukup untuk satu keluarga.

Tanaman Apa untuk Keluhan Apa?

1. Batuk, Pilek, dan Demam

Jahe merah menghangatkan badan dan melegakan tenggorokan berkat kandungan gingerol yang bersifat antiradang. Kencur banyak dipakai untuk batuk kering dan suara serak. Jeruk nipis yang dicampur madu membantu mengencerkan dahak, sementara air rebusan daun sirih dapat digunakan sebagai obat kumur ketika tenggorokan terasa perih. Untuk demam, kompres daun kembang sepatu atau istirahat disertai minum air jahe hangat cukup membantu meredakan rasa tidak enak badan.

2. Tekanan Darah, Kolesterol, dan Gula Darah

Seledri adalah salah satu tanaman yang tercantum dalam formularium Kementerian Kesehatan sebagai pendamping penurun tekanan darah. Bawang putih dikenal membantu menjaga kadar kolesterol. Daun salam, yang biasanya hanya jadi bumbu dapur, air rebusannya lazim dimanfaatkan untuk membantu mengendalikan gula darah dan kolesterol. Sementara daun kelor yang tumbuh subur di Halmahera kaya akan zat besi dan vitamin, sehingga baik dikonsumsi rutin sebagai sayur untuk menjaga daya tahan tubuh.

3. Luka, Gatal, dan Nyeri Sendi

Lendir lidah buaya yang dioleskan tipis meredakan perih pada luka bakar ringan dan kulit yang terbakar matahari. Kunyit bersifat antiradang sehingga sering diminum untuk pegal dan nyeri sendi. Air rebusan daun sirih yang sudah dingin dapat dipakai membasuh kulit yang gatal atau luka kecil. Untuk sendi yang ngilu, tumbukan sereh dan jahe yang dihangatkan lalu ditempelkan sebagai kompres memberi rasa nyaman yang cepat terasa.

Cara Mengolahnya: Empat Teknik Dasar

Meracik TOGA tidak serumit yang dibayangkan. Hampir semua ramuan rumahan hanya memakai empat teknik berikut:

  • Direbus. Cocok untuk bagian yang keras seperti rimpang, kulit batang, dan akar. Rebus dengan api kecil hingga tiga gelas air menyusut menjadi dua gelas, kira-kira lima belas menit.
  • Diseduh. Untuk daun dan bunga yang lunak. Cukup siram dengan air panas, tutup, lalu diamkan sepuluh menit seperti membuat teh.
  • Diperas. Untuk bahan berair seperti jeruk nipis, kunyit segar, atau lidah buaya. Parut, tambahkan sedikit air matang, lalu saring.
  • Ditempel (tapal atau kompres). Bahan ditumbuk halus, dibalurkan pada bagian tubuh yang sakit, kemudian dibalut kain bersih.

Ada beberapa aturan main yang wajib dipatuhi agar ramuan aman. Cuci bahan di bawah air mengalir sebelum diolah. Gunakan panci stainless, kaca, atau periuk tanah liat, dan hindari panci aluminium karena dapat bereaksi dengan kandungan tanaman. Rebus dengan api kecil supaya zat berkhasiatnya tidak rusak. Minum selagi hangat, dua kali sehari. Yang terpenting, buat ramuan baru setiap hari dan jangan menyimpan sisanya lebih dari dua puluh empat jam, karena rebusan tanpa pengawet sangat cepat ditumbuhi jamur dan bakteri.

Alami Bukan Berarti Bebas Aturan

Inilah bagian yang paling sering dilupakan. Anggapan bahwa “karena alami, maka pasti aman” justru berbahaya. Beberapa hal berikut perlu dipegang teguh:

  • TOGA tidak menggantikan obat dokter. Penderita darah tinggi atau kencing manis yang sedang minum obat rutin tidak boleh menghentikannya dan menggantinya dengan ramuan.
  • Takaran tetap harus dijaga. Terlalu banyak justru dapat membebani lambung, ginjal, dan hati.
  • Hentikan bila muncul reaksi. Gatal, mual, bengkak, atau ruam setelah minum ramuan adalah tanda tubuh menolak.
  • Kelompok tertentu wajib berkonsultasi lebih dulu, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta penderita gangguan ginjal dan hati.
  • Segera ke Puskesmas apabila keluhan tidak membaik dalam tiga hari, atau bila muncul tanda bahaya seperti sesak napas, demam tinggi terus-menerus, dan luka yang bernanah.

Mulai dari Lima Pot

Kesehatan tidak selalu berawal dari ruang periksa. Sering kali ia berawal dari hal yang jauh lebih sederhana: sepetak tanah di samping rumah, beberapa polybag bekas, dan kemauan untuk memulai.

Tidak perlu menunggu lahan luas atau bibit lengkap. Cukup tanam lima jenis tanaman terlebih dahulu — jahe, kunyit, sirih, seledri, dan lidah buaya — lalu rawat bersama keluarga. Bila setiap rumah tangga di Desa Yeisowo, Desa Bakajaya, dan desa-desa lain di Kecamatan Patani melakukan hal yang sama, kampung kita akan memiliki apotek hidup bersama yang gratis, mudah dijangkau, dan berkelanjutan.

Mari mulai dari halaman rumah masing-masing. Karena obat terbaik adalah obat yang selalu tersedia saat dibutuhkan.

Rujukan

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia (Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 6 Tahun 2016). Jakarta: Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Direktorat Pelayanan Kesehatan Tradisional. Jakarta: Kemenkes RI.

Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Pedoman Penggunaan Obat Bahan Alam yang Aman. Jakarta: BPOM RI.

World Health Organization. WHO Traditional Medicine Strategy. Geneva: WHO.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset Tanaman Obat dan Jamu (RISTOJA). Jakarta: Kemenkes RI.

Artikel ini disusun sebagai bagian dari program kerja Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada di Kecamatan Patani, Kabupaten Halmahera Tengah. Informasi di dalamnya bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan serta anjuran tenaga kesehatan.